Minggu, 05 Mei 2013

Dongeng Putri Purnama

Oleh: Ahmed Tsar dan Uleng Tepu  I Editor: Dian


Sehabis Isya, Reni bermain uber benteng bersama Ahmed, Imam dan Paris. Jika langit malam sedang cerah, maka Reni akan menghabiskan beberapa jam bermain di halaman rumahnya bersama ketiga temannya tersebut. Apalagi malam ini bulan purnama menghias langit, maka makin senanglah keempat anak tersebut berlari ke sana kemari.

“Sudah dulu ya… aku capek…!!” teriak Reni ke arah teman-temannya bercampur suara terengah-engah. Lalu, ia berbalik menuju beranda rumahnya. Di sana, kakeknya sudah duduk menunggu di bangku panjang yang terbuat dari bambu.

“Hehehe… cucu kakek keringetan. Sini, sini,minum dulu,” sambut kakek sambil menyodorkan segelas air minum. Dengan segera, Reni menerima gelas itu.
“Terimakasih, Kek. Waah, segar rasanya.”
Kakek tersenyum kecil melihat tingkah cucunya itu. Diusap-usapnya kepala Reni.
“Kek….”
“Mmh… iya, Nak.”
“Sudah lama Kakek tidak berdongeng buat Reni. Reni kangen.”
Kakek menghisap lintingan rokok tembakaunya. Matanya terpejam beberapa saat.
“Baiklah. Malam ini kakek akan mendongeng  buat cucu Kakek yang manis.”
“Asyik….” Reni melonjak kegirangan.
“Eh, tunggu ya, Kek. Reni manggil teman-teman dulu.”
Tak lama kemudian, teriakan Reni nyaring memanggil teman-temannya.
“Teman-teman, Kakek mau mendongeng. Mau dengar, nggak?”
Beberapa menit kemudian, susul menyusul Ahmed, Imam dan Paris telah berkumpul mengelilingi kakek Reni.
“Sebelum kakek mulai mendongeng, coba kalian lihat ke langit. Coba kalian amati, di bulan purnama ada gambar apa?” Mata keempat anak tersebut serentak mengikuti arah telunjuk kakek.
“Mana, Kek? Mana?” suara mereka bersahutan karena penasaran. Mereka lalu berdiri sambil berdesakan hanya karena ingin melihat jelas bulan yang sedang nampak penuh itu.
“Nggak ada gambarnya, Kek,” sahut Ahmed.
“Ada, kok. Ayo, coba amati sekali lagi. Yang ada hitam-hitamnya itu lho…”
“Aku tahu… aku tahu.. Itu gambar sungai kan, Kek,” kata Paris girang.
“Mana? Mana? Jangan bohong, Ris,” sahut Reni, Ahmed dan Imam berbarengan.
“Hehehe…coba ikuti telunjuk Kakek, ya. Jawaban Paris hamper benar. Tapi di sana bukan gambar sungai.” Kemudian telunjuk kakek menggambar rangkaian garis berkelok ke kiri dan ke kanan.
“Jalan Raya… .Pohon… Ketapel” Reni, Imam dan Paris bersahut-sahutan menerka gambar yang dibentuk telunjuk kakek.
“Tadi siapa yang menjawab pohon?”
“Saya, Kek” sahut Imam.
“Imam benar, itu gambar pohon. Ayo sekarang kalian kembali duduk. Nah, kakek mau mendongeng tentang pohon bersama putri yang tinggal di rembulan. Kakek mulai, ya dongengnya….”
“Tunggu, Kek!” potong Reni.
“Mana gambar putrinya, Kek?” ia berdiri kembali dengan mendongakkan kepalanya ke arah bulan.
“Itu yang duduk bersandar di batang pohon, ” kata  kakek sembari jemari tangannya memperagakan sosok yang sedang duduk bersandar. Mendapat jawaban seperti itu, Reni malah menggaruk-garuk kepalanya.
“Eh, Tapi kenapa putri itu duduk di situ, Kek?”
“Reni penasaran, ya. Mau tahu jawabannya, kalau gitu dengerin cerita kakek ya. Begini ceritanya…”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Alkisah pada zaman dahulu kala, di tanah Nusantara, hiduplah sepasang suami istri yang telah lama mendambakan kehadiran buah hati. Mereka telah berdo’a siang malam, tetapi tak satupun doa tersebut dikabulkan. Hingga suatu hari seorang pertapa raksasa bernama Buto menawarkan bantuan kepada mereka. Buto akan berdoa kepada Dewata agar suami istri tersebut diberi anak, tapi dengan sebuah syarat, setelah anak tersebut berusia sepuluh tahun maka Buto akan datang menjemputnya. Pasangan tersebut setuju dengan syarat dari Buto. Sembilan bulan kemudian, saat bulan bersinar penuh di langit, sang istri melahirkan bayi perempuan. Dinamakanlah bayi tersebut Purnama, sesuai dengan waktu kelahirannya.

kids

Purnama tumbuh menjadi anak perempuan yang manis, cerdas, lincah, dan patuh pada orang tua. Kedua orang tuanya sangat menyayangnya. Seminggu lagi Purnama genap sepuluh tahun. Orang tuanya menjadi ragu bahkan takut untuk menyerahkan Purnama kepada Buto sebagaimana kesepakatan mereka dahulu. Lalu mereka mendatangi seorang mbah guru yang terkenal sakti. Mereka menceritakan segalanya. Oleh mbah guru, mereka diberi sebuah bungkusan kecil.

“Perintahkanlah Purnama lari saat raksasa Buto datang. Berikan pula buntelan ini padanya,” begitu pesan mbah Guru.

Hari perjanjian pun tiba. Menjelang malam terdengar bunyi gemuruh gempa. Makin lama getarannya makin membesar. Itu adalah derap langkah Buto yang mendekati tempat tinggal Purnama.
“Purnama, kamu harus lari, Nak! Buto telah datang. Jangan pedulikan Simbok dan Bapak. Ia hanya mencarimu,” gemetar suara ibu Purnama meminta anaknya pergi. Ditahannya tangis yang sudah di ujung kelopak matanya. Rasa panik mengalahkan segalanya. Purnama masih kebingungan melihat sikap orang tuanya.

“Tapi kenapa Purnama harus pergi meninggalkan bapak dan simbok?”
“Ceritanya panjang, Nak. Intinya raksasa bernama Buto ingin menangkapmu. Cepatlah lari. Pergunakanlah isi dalam buntelan ini jika kau hampir tertangkap,” kata simbok sambil menyeret tangan Purnama mendekati pintu belakang. Diangsurkannya bungkusan kecil dan sabit kecil ke tangan Purnama.

“Larilah, Nak…” tubuh ringkih bapaknya mendorong Purnama keluar.
Hutan di belakang gubuk menjadi titik aman pertama. Segera Purnama berlari ketakutan. Tangan kanannya memanggul bungkusan kecil, sementara tangan kirinya berayun-ayun menebas batang tanaman yang menghalangi langkahnya.

“Huaha.. ha… ha.. ha…. Jangan kabur, Anak manis. Kemana pun kau berlari, tetap saja kau akan tertangkap. Kedua orang tuamu telah binasa… hua.. ha.. ha.. ha….” Suara Buto terdengar menggelegar di antara rerimbun daun jati dan cendana. Gelegar suara tersebut membuat Purnama merasakan seolah-olah Buto telah sangat dekat, telah menangkap bayangannya,  padahal dia sudah masuk jauh di tengah belantara.
“Celaka! Bagaimana aku bisa melewati lembah ini?” gumam Purnama. Selubung jaritnya telah basah oleh keringat. Nafasnya tersengal-sengal. Dia teringat pesan simbok, jika menemui jalan buntu, maka ia harus membuka bungkusannya. Dengan rasa gugup yang mengepung, sambil terduduk. Tangan kecil Purnama cekatan membuka anyaman kain pembungkusnya.

“Hah.. apa ini?!” Beriring kekagetannya, isi buntelan itu terhampar di depannya. Batang rebung sangat pendek, berhulu hilir runcing, sepotong terasi, sebuah bakal biji pohon, dan sebuah telur ayam. Segera disusunnya kembali isi buntelan yang tadi terhambur.

Kraaak… bruuam… buummm, terdengar menggelegar. Sekarang sosok Buto terlihat jelas di depan Purnama. Sosok yang nampak beringas dengan dua taring besar tajam keluar dari mulutnya. Pepohonan besar nampak bagai belukar rerumputan yang begitu mudah diobrak-abrik oleh Buto.
“Hua.. ha… ha… mau kemana lagi kau, Cah Ayu? Sudah waktunya, Nduk. Sudah waktunya kau menjadi santapanku. Kedua orang tuamu telah ingkar janji. Maka bersiaplah, Nduk…  hua.. ha….” Tanah bergetar bersamaan dengan gelegar suara Buto.

Purnama dicekam kengerian.  Air matanya makin deras keluar.  Ia kebingungan, tak tahu harus melakukan apa. Getaran langkah Buto yang serupa gempa makin menghebat. Badan Purnama terguncang hebat bersama buntelannya. Pikirannya pun guncang. Tiba-tiba ia teringat pesan ibunya untuk menggunakan isi dalam buntelannya jika ia dalam kesulitan. Diraihnya benda yang mudah terjangkau tangannya. Batang rebung. Tak mau kalah dengan derap langkah Buto, Purnama melemparkan batang rebung itu. Namun terlambat, sosok Buto telah nampak di hadapannya.
“Hua..ha..ha..ha… Kau melempar apa, Cah Ayu? Kayu…?” diraihnya batang rebung yang dilempar Purnama. Belum lama Buto menggenggam batang rebung itu tiba-tiba…
Raksasa 

“Aduuhh..biyunngg…tobaat…,” teriak Buto kesakitan.
Ajaib. Batang rebung berubah menjadi sulur-sulur besar yang lama kelamaan membelit tangan Buto. Selain belitan yang kencang, Buto kesakitan karena dari sulur tersebut muncul ranting-ranting berduri tajam. Crasssh…darah muncrat seiring kuatnya hunjaman duri-duri setajam pisau.

Dbbuummm…kembali tanah bergetar. Kali ini guncangannya begitu keras. Belitan sulur berduri telah mengurung Buto, memaksa tubuhnya tumbang.

Melihat Buto yang terkurung, pelan-pelan keberanian menyelinap di hati Purnama. Kepanikannya sirna seketika. Cepat-cepat ia bangkit. Tubuhnya masih limbung.

“Aku harus cepat lari lagi,” batinnya.
Buto memang sedang bergulat dengan kerangkeng yang terus menjalar membelit, tapi Purnama tahu raksasa itu pasti segera terbebas. Amuk Buto lebih beringas daripada belitan sulur tajam yang menghadang.

“Heeeiii…. jangan lari kau, Nduk. Arrrgghh…,” kemarahan Buto makin menjadi-jadi bersamaan langkah Purnama menuruni tangga alam berupa bebatuan berundak. Buto tak menyangka anak itu menemukan jalan untuk kabur. Kabur dengan bantuan alam dan benda-benda ajaib.

“Weladalaah…. beruntung sekali kau, Cah Ayu. Awas kau… Grrrhhh,” geram Buto sambil terus bergumul dengan belitan-belitan yang menyesakkan.
Purnama tersaruk-saruk berlari meninggalkan Buto. Padang tempat dia berlari, terjal berbatu. Namun, ia tak menyerah. Dia harus mencapai dinding jurang di depannya. Di sana ada anak-anak tangga alam.

“Aku harus lolos dari kejaran Buto,” batinnya.
“Kau tidak akan kuat, menyerah saja,” sisi lain hatinya mengatakan hal yang berbeda.
Seakan mendengar suara hati Purnama, Buto berhasil membebaskan diri dari belitan sulur berduri. Raksasa itu kini telah mendekati jurang. Ia tampak lebih menyeramkan. Darah hasil pergulatan dengan sulur-sulur tajam mewarnai seluruh bagian tubuhnya.

“Awas, Purnama! Kau telah melukaiku. Awas kau!! Buuum…. Buuum…,” langkah Buto mantap semantap gelegar ancamannya.

Gema langkah Buto beserta suaranya sesaat mengunci derap langkah Purnama, padahal dia sedikit lagi menyentuh tangga alam di dinding jurang.

“Gusti, lindungi hamba. Hamba takut, ” jerit batin Purnama.
Seolah-olah mendengar doa Purnama, tanpa sepengetahuannya, terasi terlontar keluar dari buntalan. Lagi-lagi keajaiban datang. Terasi tersebut pelan-pelan berubah menjadi lumpur panas.
“Aw, sakit…. Hah, apa ini?” Hawa panas lumpur menyentuh kulit  Purnama. Sontak, kesadaran untuk lolos dari Buto pulih kembali. Tanpa berpikir panjang, dia menaiki tangga alam.
“Cah Ayu, percuma kau lari. Tunggu aku…”

Purnama pun menaiki tangga alam dengan sekuat tenaga. Nafasnya terengah engah.
“Aaarrgghhh…..apa ini…?” Seru Buto melihat lumpur panas yang melebar di depannya.
Bluup… bluupp… bluup… Lautan lumpur panas kini menenggelamkan tubuh Buto. Erangannya susul-menyusul dengan bunyi letupan lumpur panas. Buto megap-megap. Gerakannya yang panik justru menimbul-tenggelamkan kepala raksasa itu.

Kepanikan juga melanda hati Purnama. Dia tak mau mati oleh lumpur yang lama-kelamaan menyusul langkahnya. Tersaruk-saruk langkahnya menaiki tangga alam. Batas jarit di pergelangan kaki kini berpindah di lutut, tapi tetap saja derapnya terhuyung-huyung. Lantai atas jurang sedikit lagi digapai. Tiba-tiba kaki kanannya dicengkeram oleh tangan yang kasar dan besar. Dingin. Wajah bocah bertambah pucat. Belum selesai menghabiskan nafas terengahnya, dia terjatuh.

“Hua..ha..ha..ha…ha….,“ tawa Buto terdengar begitu mengerikan. Namun keajaiban lagi-lagi datang. Bakal biji terjatuh terlebih dahulu ke bumi. Lalu, berubah menjadi pohon raksasa yang tumbuh sangat cepat. Purnama beruntung, ia langsung jatuh di atas dahan pohon paling atas dan langsung terbawa menuju langit. Buto terkejut melihat hal itu. Pohon itu tumbuh begitu cepat.

Purnama telah tak nampak dari pandangan matanya. Pohon itu telah membawa Purnama jauh ke atas, menembus awan. Amarah Buto telah mengubun-ubun setelah ia gagal dua kali menangkap Purnama.
“Kali ini aku harus berhasil menangkapmu, Cah Ayu!” teriaknya sambil mulai memanjat batang pohon itu.

Untuk sementara Purnama menarik napas lega. Sang raksasa jauh tertinggal di bawah. Pohon yang membawanya bergerak cepat ke atas hingga dia kini telah tiba di bulan. Anehnya, pohon itu berhenti tumbuh saat telah menyentuh bulan. Kali ini bulan tampak sempurna. Purnama takjub melihat bentuk bulan yang demikian besar dengan sinar yang kemilau. Hatinya damai. Untuk sementara ia melupakan kepanikannya usai dikejar Buto. Namun, itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba ia merasakan getaran pada pohon tempatnya duduk. Rasa was-was kembali menyergap. Tangannya refleks meraih benda terakhir dalam buntalannya, sebutir telur ayam.
Getaran makin kuat. Purnama mulai panik. Dilemparkannya telur ayam itu ke bawah. Telur itu melaju cepat hingga sampai ke bumi. Ajaib, telur itu lalu menetas menjadi ayam jago dewasa kemudian berkokok dengan sangat lantang, padahal hari masihlah gelap. Mendengar suara kokok ayam tersebut, bulan yang ditumpangi Purnama mengira hari sudah pagi, maka bulan tersebut segera menuju peraduannya untuk memberi kesempatan pada matahari menjalankan tugasnya.

Pergerakan bulan tersebut, membuat pohon tumpangan Purnama patah, sementara Buto sudah setengah perjalanan mendakinya. Patahnya pohon tersebut tidak disadari Buto hingga akhirnya pohon itu tiba-tiba oleng dan tidak sekukuh saat awal dia memanjatnya. Buto tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat pohon tersebut tumbang.

Bbuuum… terdengar bunyi menggelegar. Pohon dan tubuh Buto jatuh berdebam ke bumi. Batang pohon yang besar menindih tubuh Buto hingga tak bergerak. Buto tewas seketika. Sementara itu, Purnama juga terjebak di bulan. Meskipun selamat dari kejaran Buto, tetapi  ia tak bisa kembali lagi ke bumi. Hal itu membuat Purnama bersedih hati. Ia berdo’a dalam hati agar ia bisa kembali ke bumi, namun sebuah suara berkata padanya.


“Purnama, terimalah takdirmu untuk tinggal di bulan. Ini sebagai pelajaran atas sikap orang tuamu yang ingkar janji. Kau selamat dari kejaran Buto, namun kau tidak bisa lagi kembali ke bumi tempatmu semula.” Tiba-tiba sang Rembulan berbicara.

Purnama bersedih mendengar suara bulan itu. Ia hanya bisa menangis dan bersandar pada batang pohon yang membawanya ke langit. Ia merindukan warna-warni bunga, kepak sayap kupu-kupu yang bercumbu dengan mahkota-mahkota bunga, sejuknya embun pagi, juga hangatnya matahari. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa. Melompat dari pohon itu hanya akan membuatnya bernasib sama dengan Buto, maka Purnama pasrah menerima nasibnya. Berdiam di bulan. Maka sejak itulah pada permukaan bulan akan nampak lukisan pohon dan seorang perempuan yang duduk di atas pohon.

Purnama di Bulan
~~~~~~~~~~~~~~~~
Usai sudah kakek mendongeng untuk Reni dan ketiga temannya. Bola mata keempat anak itu masih terkesima mendengar cerita kakek. Lalu pandangan mereka beralih menatap bulan purnama.
“Kasihan  si Purnama, ya Kek. Di sana dia kesepian,” gumam Reni.
“Iya…namun itu adalah takdir yang harus dijalaninya.”
“Andai aku punya sayap, pasti sudah kujemput Purnama. Membawanya ke bumi.” Ahmed mulai menghayal, kemudian diikuti ledekan teman-temannya.
“Hehehe…sayapmu ga akan kuat, Med. Lagipula bulan itu jaaauuuuuhhhhh.”
“Iya betul itu kata Reni, kamu bisa megap-megap,” Paris menambahkan.
“Hehehe… sudah-sudah. Kalian tidak usah berdebat. Sekarang sudah jam setengah sembilan. Sudah waktunya kalian pulang. Orang tua kalian nanti khawatir.”
“Iya.. nanti dikira kalian diambil raksasa Buto… hiii…,” kata Reni kembali jahil menakuti teman-temannya.
“Alah.. .kami gak takut. Buto kan sudah mati, Ren.”
“Hehehe, iya, yah….”
“Kek, kalau begitu kami pamit pulang. Terima kasih sudah mendongeng buat kami,” pamit Ahmed yang kemudian diikuti oleh dua temannya.
Malam semakin larut. Kakek mengajak Reni masuk. Sudah waktunya cucunya itu tidur, sebab esok dia harus ke sekolah pagi-pagi.

Suli Dan Anjing Kesayangannya

Penulis: Afandi Sido | Editor: Edi Kusumawati
kids
Suli anak kecil yang baik hati. Manis dan sayaaaang sekali sama anjingnya. Suli yatim piatu. Ia tinggal dijaga oleh neneknya di rumah kecil di sebuah desa yang tidak begitu ramai.

Setiap hari Suli suka menggambar dengan krayon. Sambil menggambar, Suli paling suka menjilat-jilat permen lolipopnya yang besar. Atau permen pelanginya yang bulat. Senang sekali dia. Beberapa kali gambarnya ditemepeli warna-warna seperti permennya.

Saat Suli asik menggambar, anjing kesayangannya sering menemani dari luar jendela kamarnya. Di luar jendela itu, di tanah berumput tipis, rumah anjing kesayangan suli berdiri. Mungil dan warna-warni juga. Anjing Suli suka sekali rumah mungilnya.

Sayangnya, setiap kali Suli menggambar atau makan permen warna-warni, puluhan kertas diremasnya dan dilempar keluar jendela. Plastik-plasti bergambar boneka bungkusan permennya pun dilempar kesana. Neneknya jarang mengawasi karena sibuk berladang dan mengurusi kebun timun.
Anjing Suli sangat sayang padanya. Setiap kali Suli membuang sampah keluar jendela, anjingnya yang memungut sampah itu. Sampah-sampah kertas dan plastik itu lalu dibawa ke dalam rumah mungil oleh anjing kesayangan Suli itu. Dibuatkan lubang di sana, lalu ditutupi dengan tanah sekelilingnya. Lama kelamaan setelah setahun Suli terus melempar sampah keluar jendela, rumah mungil anjingnya pun semakin sesak. Suli selalu heran karena hanya sedikit sampah yang ada di tanah luar jendelanya.

“Mungkin oma yang membuangnya.” Pikir Suli kalau sedang jalan-jalan sendirian dan bermain bersama anjingnya di situ.

Juga saat Suli berani berjalan-jalan di jalan dekat rumahnya, suli membawa buku gambar dan baaanyak sekali permen di saku tasnya. Setiap kali gambarnya salah, suli merobek kertas dan membuangnya. Ditengoknya ke belakang, kertas itu hilang. “Ha? mungkin kertasku tertiup angin?”
Begitu setiap hari.

anjing

Hingga akhirnya, Suli memanggil anjingnya di suatu pagi. Anjingnya tidak menyahut. Dicarinya anjing kesayangannya itu, Suli kaget mendapati anjingnya telungkup di dalam rumah mungilnya. Tak bersuara, hanya meraung kesakitan. Suli memeriksanya, ternyata perut anjingnya menjadi besar dan buncit. Anjing kesayangan Suli sakit.

Akhirnya saat itu pula, Suli melihat semua sampahnya selama satu tahun berkumpul di dalam rumah anjing kesayangannya. Suli menangis, karena selama ini tak tahu kalau anjingnya lah yang membersihkan semua sampahnya.

Kini anjing kesayangan Suli sakit, karena menelan banyak sampah yang Suli buang sebelumnya.
Suli sedih, tapi ia belajar satu hal:

anak

“Belajarlah mencari tahu akibat dari semua perbuatanmu, agar kau mendapatkan alasan untuk mengulanginya lagi, atau menghentikannya.”
Suli dan Anjing kesayangannya.
Selesai.
——-
Pesan: Perhatikan teman dekat kita, siapa tahu dia sudah berkorban banyak untuk kita tapi kita tidak mengetahuinya.

Kisah Tikus Kecil

Penulis: Paramita Dea | Editor: Afandi
rat
Alkisah pada zaman dahulu kala hiduplah seekor tikus yang tinggal di rumah seorang petani bersama dengan keluarganya. Karena dia hidup bersama seorang petani yang selalu mengumpulkan hasil panen, maka tikus dan keluarganya selalu hidup berkecukupan. Namun, ada satu masalah yang selalu membuat dia tidak puas dengan keadaan dirinya, yaitu keberadaan kucing peliharaan petani yang selalu membahayakan dirinya. Seperti hari ini, tikus kecil masuk ke lorong rumahnya dengan terengah-engah. Kucing petani baru saja mengejar-ngejar dirinya yang hendak mengambil sepotong keju dari gudang penyimpanan makanan. Sambil menyeka dahinya yang dipenuhi keringat, tikus kecil bergumam

“Aku sudah bosan mempunyai tubuh yang kecil. Aku ingin menjadi lebih besar, kuat, dan berkuasa, bahkan melebihi kuasa Petani dan Kucing miliknya.”
Setelah membulatkan tekad untuk menjadi lebih besar dan kuat, Tikus pun akhirnya pergi meninggalkan rumah Petani. Dia berjalan menelusuri jalan setapak sembari memikirkan apa yang dia inginkan, tanpa dia sadari bahwa Sang Peri mendengarkan apa permintaannya. Ketika Tikus Kecil sedang beristirahat di bawah pohon yang rindang, Peri pun muncul di hadapannya.

“Wahai Tikus Kecil. Aku mendengarkan ucapanmu sepanjang jalan ini. Katakanlah padaku apa yang membuatmu memikirkan hal itu?” ucap Sang Peri.
Dengan suara yang terbata-bata, Tikus pun menjawabnya “Aku ingin menjadi lebih besar, lebih kuat dan lebih berkuasa. Sehingga Petani dan Kucingnya tidak bisa mengganggu dan mengejarku lagi.”
Peri pun mengagguk tanda mengerti, lalu dia pun berkata “Aku mengerti apa yang kamu inginkan. Baiklah, Tikus Kecil. Aku akan memberikanmu lima permintaan, pikirkanlah dengan baik apa yang kamu inginkan dengan permintaan itu. Ucapkan kata ajaibnya ‘Pam Para Pam Pam’ lalu keinginanmu, maka kau akan berubah menjadi apa yang kau minta.”

Tikus Kecil pun melonjak kegirangan akan perkataan Sang Peri. “Terimakasih, Peri. Akan kugunakan permintaan itu sebaik-baiknya.” Setelah tersenyum kepada Tikus Kecil, Sang Peri akhirnya menghilang dari hadapannya.

Tikus Kecil melanjutkan perjalanannya sepeninggal Sang Peri. Di benaknya dipenuhi pikiran-pikiran hendak menjadi apakah dia. Tanpa dia sadari, matahari bersinar semakin terik. Panasnya membuat dia kelelahan dan harus sering berhenti hanya untuk sekedar beristirahat. Lalu dia akhirnya sadar dan berkata

Pam Para Pam Pam! Aku ingin menjadi matahari!” Plop! Dan dalam sekejap ucapannya menjadi kenyataan. Tikus kecil menjadi Matahari yang bersinar terik di langit. Dia tersenyum senang, dengan dirinya yang baru dia dapat menerangi seluruh daratan. Orang-orang yang sedang bekerja di bawahnya, dia sinari dengan terik sehingga mereka kepanasan dan berhenti bekerja. Akan tetapi, kegembiraannya hanya berlangsung sekejap. Karena tanpa dia tahu dari mana datangnya, munculah segumpal awan yang menutupi dirinya. Sekuat apapun dia mencoba mengeluarkan sinarnya, awan ini tidak beranjak dari hadapannya.

“Ternyata, masih ada yang lebih kuat dari matahari. Lihatlah awan ini, walaupun aku mengeluarkan sinar yang terik, dia tidak bergeming, tetap menghalangiku. Kalau begitu, Pam Para Pam Pam! Aku ingin menjadi awan!” serunya.

Plop! Tikus Kecil pun berubah menjadi awan. Dia bergerak kesana kemari, membuat tempat yang dilaluinya tertutup awan mendung. Orang-orang tidak bisa menjemur pakaiannya, Petani tidak dapat mengeringkan hasil panennya, dan tumbuhan tidak dapat mendapatkan sinar matahari untuk tumbuh. Lagi-lagi kegembiraannya tidak berlangsung lama, datanglah angin yang kencang dan meniup Tikus Kecil yang telah berubah jadi awan. Sekuat apapun dia bertahan, tapi angin berhasil meniupnya.

Tikus kecil yang kesal akhirnya berkata “Angin ini lebih kuat dari awan. Pam Para Pam Pam! Aku ingin menjadi angin.” Plop! Tidak ada lagi gumpalan awan halus, Tikus Kecil kini berubah menjadi angin. Dia meniup ranting dan dedaunan yang berjatuhan di tanah, ditiupnya awan yang menghalangi jalannya. Tetapi ketika dia meniup rumah Petani, rumah itu tidak terbang seperti yang disangkanya. Dia mencoba meniupnya sekali lagi. Whus! Tapi rumah itu tetap tidak bergeming. Sang Tikus mencoba meniupnya berkali-kali hingga akhirnya dia kelelahan.

“Rumah ini lebih kuat dariku. Matahari tidak dapat menembusnya, awan tidak dapat mengganggunya, bahkan angin pun tidak mampu meniupnya. Kalau begitu Pam Para Pam Pam! Aku ingin menjadi rumah!”

Plop! Tikus pun berubah menjadi rumah. Dia berdiri dengan kokoh seolah-olah menantang matahari, awan dan angin. Waktu pun berlalu, rumah yang kokoh ini lambat laun dipenuhi dengan lubang-lubang kecil. Rupanya ada keluarga tikus yang membuat sarangnya di sana. Tikus Kecil pun menyesal, ternyata tidak ada yang lebih baik selain menjadi diri sendiri. Rumah yang dia kira lebih kuat, besar, dan berkuasa dari apapun juga, ternyata bisa diganggu oleh makhluk-makhluk kecil seperti dirinya dulu. Dengan berlinang air mata, Tikus Kecil pun memohon pada Peri agar mengubahnya kembali. Sang Peri yang bijaksana mengabulkan permintaannya, Tikus Kecil kembali menjadi tikus seperti semula. Dia pun tidak pernah lagi mengeluh ingin menjadi orang lain.

Suri Dan Boneka Barunya

dongen anak nusantara
http://fitrisblog.wordpress.com
Suri belum jelas berbicara, karena dia belum bisa menyebutkan “R” dia biasa mengucapkannya dengan “L” saja. Meski demikian, Suri banyak sekali berbicara. Dia memang suka meniru orang-orang dewasa. Tingkah dan obrolan Suri  sering sekali membuat orang-orang merindukannya.
Suatu ketika, Suri dan Bunda Inge pergi ke minimarket. Keluarga Suri biasa pergi kesana setiap hari minggu sore. Mereka memang biasa belanja  minyak goreng, gula, beras, peralatan mandi dan kebutuhan yang lainnya satu kali dalam seminggu.  Selain itu, Bunda Inge selalu belanja sayuran setiap pagi, tapi untuk sayuran itu, Bunda Inge tidak berbelanja di minimarket. Karena setiap pagi selalu ada tukang sayur yang lewat di depan rumahnya.
Suri sangat senang jika di ajak berbelanja, karena sesekali Bunda Inge membelikan mainan baru untuk Suri. Bahkan bunda Inge juga sering membelikan permen, walaupun dengan aturan yang ketat. Suri hanya boleh makan permen satu buah saja dalam satu hari.
***
anak nusantara
http://grou.ps/includes/
Ketika tiba di Minimarket, Suri terlihat senang sekali. Matanya langsung tertuju pada barisan mainan anak-anak. Disana ada boneka boneka Barbie dan boneka yang lainnya. Yang paling Suri suka adalah boneka hewan seperti kucing, Komodo, Orang Utan dan Harimau.
Suri memang tidak punya kucing di rumahnya. Tapi Suri memiliki tiga boneka kucing. Yang paling besar di beri nama si Item, sedangkan yang kecil diberi nama  Mela dan Utih.
“Bunda!”
Suri berkata sambil menepuk tangan Bunda Inge. Saat Bunda Inge melihat ke arah Suri, seketika itupun Suri menunjuk pada barisan boneka yang ada di depannya. Suri menunjuk dengan jarinya yang belum sempurna lurus, tapi dengan jelas terlihat bahwa pandangannya tertuju pada barisan boneka itu. Bunda Inge kemudian berkata.
“Iya nanti kalo sudah selesai belanja, baru kita mencari boneka baru ya”
Bunda Inge berkata sambil mengambil troli untuk menyimpan barang belanjaannya. Suri tersenyum, dia pasti akan mengingat itu, bahwa Bunda Inge akan membelikannya Boneka baru.
“Asiiiik! Suli dapat boneka balu”
Suri bertepuk tangan sambil lonjak-lonjak, rambutnya yang di ikat satu ke atas  bergoyang-goyang. Suri suka dengan gaya rambut itu, karena dia bisa melihat rambutnya di cermin berdiri ke atas.  Sesekali Suri juga berdiri dan memperhatikan rambutnya, ketika dia berada di depan cermin yang ada di minimarket itu. Dia melihat rambutnya sambil gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Suri mengikuti Bunda Inge yang  berjalan sambil mendorong troli. Biasanya, jika terlalu lelah berjalan, Suri biasa dinaikan juga ke dalam troli. Tapi karena baru datang, Suri masih ingin berjalan kaki saja. Suri lebih senang bejalan kaki, karena bisa melihat dan bertanya tentang barang barang yang ada disana.
Selama berbelanja, Suri banyak bertanya tentang barang yang dilihatnya. dia juga melihat beberapa coklat yang berwarna warni.
“Bunda, itu ada tulisannya tidak”
Suri berkata sambil menunjuk ke sebuah coklat besar berwarna merah muda. Bunda Inge menoleh ke arah Suri kemudian melihat ke arah yang di tunjuk Suri. Kemudian dia mengambil coklat itu dan membaca beberapa tulisan di kemasannya.
“Ini tidak ada tulisan larangan untuk anak-anak. Tapi Suri tidak boleh makan ini ya, karena nanti giginya bisa rusak. Mau gak nanti giginya ompong semua kayak nenek-nenek?” Bunga Inge berkata sambil memperagakan memakan sesuatu yang terlihat kerepotan. Karena tidak memiliki gigi.
“Iiiih!  Nga mau”
Suri berkata sambil menutup mulutnya, kemudian Bunda inge menyimpan lagi coklat besar yang dipegang itu ke tempatnya yang semula. Bunda Inge memang tidak pernah membohongi Suri dengan tulisan yang ada disana. Tapi Bunda Inge selalu memberikan pengertian agar Suri tidak suka makan makanan yang merugikan kesehatannya.
“Suli Nda mau nanti kayak nenek gak bica makan kelupuk, nenek sudah gak ada giginya. Atuuut!” Suri berkata lagi sambil memonyongkan bibirnya.
***
Selama berbelanja Suri suka berlari lari melihat beberapa barang yang menurutnya aneh. Sesekali dia juga menari nari jika ada suara musik yang dikenalnya diputar di minimarket itu. Dia mengikuti gerakan gerakan yang pernah di tonton di televisi.
Jika melihat Suri menari, Bunda Inge selalu tersenyum dan memalingkan wajah untuk  berpura-pura tidak melihatnya, Bunda Inge juga tidak menegurnya, karena jika tau Bunda Inge memperhatikan, Suri akan terus menari hingga lagunya selesai.
Setelah semua barang belanjaan yang ada di daftar selesai di bawa, kemudian Bunda Inge menuju ke kasir untuk membayar. Kini Suri sudah berada dalam troli bersama dengan barang belanjaan yang lain. Karena Suri sudah lelah dari tadi berjalan jalan.
“Bunda lupa ya? Kan Suli belum ambil itu” Suri menujuk ke arah boneka yang sejak pertama datang tadi dimintanya. Suri memang masih mengingat bahwa Bunda Inge telah berkata akan membelikannya boneka jika telah selesai berbelanja.
Bunda Inge kemudian mendorong troli itu mendekati barisan boneka yang di pajang. Suri hanya memilih satu boneka kucing belang, coklat dan hitam.
“Ini namanya Sibelang, Suli kasian si Utih dan Mela gak punya papa. Ini papanya ya Bunda”
Bunda Inge tersenyum mendengar perkataan Suri. Memang boneka Suri saat ini hanya tiga, Si item yang jadi ibunya, sedangkan Mela dan Utih anaknya. Suri senang memainkan mereka hingga dia merasa ngantuk, Dan kerapkali  tertidur dengan ketiga boneka itu di sisi kiri dan kanannya .
Bunda Inge kembali mendorong troli. Suri memeluk boneka itu dengan perasaan senang. Bahkan ketika kasir ingin mengecek harganyapun, Suri tidak tidak mau memberikan boneka kucing itu, sehingga kasir itu cukup kewalahan untuk mengetahui harganya. Bertuntunglah Bunda Inge bisa menjelaskan bahwa Tante kasir itu hanya meminjam untuk melihat harganya saja.
Setelah selesai membayar semua barang itu, Bunda Inge dan Suri kemudian pulang. Suri masih memeluk boneka baru yang sangat di sukainya. Sepanjang perjalanan, Suri memainkan boneka yang dipanggil si belang itu.
“Belang, kamu jangan sedih ya. Kamu akan senang, kalena  Mela dan si Utih sudah menunggu di lumah. Meleka lagi memasak untuk menyambut kedatanganmu”
Suri berkata sambil mengelus si belang, kemudian dia seolah mengusap mata dan pipi si belang, solah olah boneka itu sedang menangis. Disela konsentrasinya menyetir mobil, Bunda Inge menoleh sambil terseyum.

Kesombngan Seruni Sang Kunang-kunang

Penulis: Angel Lie |
Editor: Dian




Dahulu kala kunang Kunang adalah hewan yang paling disayangi di hutan Varow.   Tubuhnya  kecil, indah, dan dapat mengeluarkan cahaya di malam hari sehingga penduduk di hutan Varow yang rata rata adalah perempuan sangat memuja dan menyukai binatang kecil kunang-kunang.

Seiring berjalannya waktu, perangai kunang kunang sebagai hewan yang asal mulanya sederhana dan ramah berubah menjadi pongah dan suka marah serta menjelek jelekkan hewan lain. Seperti pada suatu siang yang cerah di musim semi, kunang-kunang sedang bersama penghuni hutan yang lain.
“Wah, udara yang cerah, tetapi rusak karena kehadiran seekor ulat di bungaku yang indah ini”, kata kunang-kunang pada temannya seekor kunang-kunang juga. Ulat yang diejek oleh kunang-kunang hanya tertawa dalam hati  sambil berdiam di ujung bunga matahari yang tumbuh di ujung sebuah padang rumput hutan Varow itu.

“Kenalkan aku Fika, ulat biasa yang baru datang karena tertiup angin ke Hutan Varow ini,”  kata ulat itu kepada Seruni sang kunang-kunang primadona dan temannya.
“Aih, siapa yang mau berkenalan denganmu ulat jelek?” kata Seruni pada Fika. “Aku tak sudi melihatmu, engkau merusak pemandangan indahku hari ini. Kenapa engkau tidak pergi aja jauh-jauh dari hutan ini?” tanya Seruni pada Fikal setengah menghardik.

Fika yang mendengar hardikan Seruni sang kunang-kunang, hanya bisa terdiam sedih sambil memandang Seruni sang kunang-kunang, ”Maafkan aku apabila bentuk rupaku merusak suasana hatimu wahai kunang yang indah, aku baru di hutan ini. Jadi, aku tidak tau harus pergi ke mana lagi,. Hanya di sinilah aku menetap setelah tertiup angin,” kata Fika sedih kepada Seruni.

“Huh, itu hanya alasanmu saja ulat jelek,” kata Seruni kepada Fika sang ulat kecil. Ini adalah wilayah kekuasaanku. Siapa yang tidak mengenal dan menyukai kunang-kunang seperti kami jika diibandingkan dengan engkau yang jelek itu?” kata Seruni kepada Fika sambil tetap mengejeknya.
“Baiklah,”  jawab Fika sedih, “aku akan pergi mencari tempat baru apabila kehadiranku di sini mengganggumu,  wahai Kunang-kunang.”

Dengan sedih dan sabar  Fika berjalan perlahan lahan melalui daun bunga matahari lalu  menuju daunnya dan pergi perlahan lahan dari satu bunga dan daun ke bungan dan daun lainnya.
“ Ha… ha… ha… akhirnya dia pergi juga,” kata Seruni pada temannya puas.

Dia semakin merasa sombong dan pongah karena berhasil mengusir seekor ulat jelek yang mengganggu pemandangan di wilayah tinggalnya. “Yuk teman-teman kita pergi bermain lagi,” ajak Seruni pada teman-temannya.

Sementara itu Fika yang memulai perjalanannya terseok-seok tak tentu arah untuk mengisi pertu dan mencari daerah baru yang dapat dia tempati tanpa ganguan dari binatang lain . Dia masih merasa asing dengan Hutan Varow ini, Baru 3 hari Fika terdampar oleh angin di sini.
“Dimanakah aku dapat mencari tempat tinggal yang baru?” tanya Fika dalam hatinya.

Tak berapa lama kemudian Fika melihat tanaman meranggas semacam daun arbei di suatu kebun yang sudah tak terurus lagi dengan bunga lili di samping tanaman arbei itu. Dengan gembira dan perlahan lahan Fika pun menuju ke daun arbei itu.

”Mungkin ini cocok untuk tempat tinggalku. Lagi pula, di sini sangat sepi. Semoga aku dapat tinggal dengan tenang di sini,” kata Fika dalam hati. Semenjak hari itu, Fika tinggal di daun arbei itu. Ingin rasanya Fika memperoleh teman seperti dirinya yaitu seekor ulat juga.

Pada suatu hari, Fika merasakan sakit seluruh tubuhnya. Nafsu makannya pun semakin berkurang. Fika pun heran akan keadaannya ini. Tak berapa lama kemudian, dia merasa banyak benang tumbuh dari tubuhnya, kemudian dia pun merasa mulai mudah mengantuk tiap harinya. Fika memilih tempat di sudut daun arbei untuk tidur. Tak berasa, tubuhnya telah menjadi kepompong. Setelah 1 bulan lamanya, Fika pun terbangun dari tidur panjangnya. Kepompong itu telah terbuka, lalu keluarlah Fika dari tempat tidurnya.

“Hoam…,” Fika menguap, “aduh, aku tertidur terlalu lama. Heeiii… mengapa tubuhku menjadi ringan?”

Fika segera berlari menuju air di daun untuk mengaca dirinya.  Sangat terkejutlah dia, melihat perubahan dirinya yang sekarang. Dia sudah menjadi seekor kupu yang memiliki sayap aneka warna,  indah sekali. Fika pun dengan bercucuran air mata bahagia segera mencoba terbang.

Oh, ternyata aku telah menjadi seekor kupu-kupu yang dapat terbang. Terima kasih Tuhan, aku dapat terbang dan menikmati indahnya hutan ini tanpa harus berjalan lagi.”
Tiba tiba, ketika sedang bergembira, Fika bertemu dengan Seruni dan teman-temannya, Fika segera menyapa mereka.

“ Hai, Kunang-kunang apa kabar?” tanya Fika ramah.
Seruni terkejut melihat seekor kupu-kupu yang indah sedang menyapanya, dengan ketus dia menjawab, “Hai siapa dikau? Aku belum pernah melihat binatang sepertimu.”
Sejujurnya Seruni mengagumi keindahan sayap sang kupu-kupu. Fika segera menjawab, “Hai, aku Fika si ulat  yang dulu kamu usir. Masih ingatkah kau?”

Seruni sangat terkejut mendengarnya. Dengan tidak percaya dia memandang Fika. Dengan segera dia mengejek kembali, “Tidak mungkin itu engkau, ulat menjadi kupu-kupu. Sudahlah sana pergi, dasar tukang bohong,” kata Seruni sambil pergi dengan teman-temannya memandang sinis kepada Fika, sang kupu-kupu. Fika pun pasrah dan pergi. Dia tidak ingin memperpanjang masalah dengan Seruni,  sang kunang-kunang.

Semenjak Fika menjadi kupu-kupu, tersiarlah kabar ada biantang yang lebih indah daripada kunang-kunang. Dialah Fika, sang kupu-kupu. Semenjak itulah kupu-kupu lebih terkenal daripada kunang-kunang, sehingga Seruni sang kunang-kunang sangat malu dengan kesombongan dirinya sendiri. Sejak saat itu, kunang-kunang dapat kita jumpai pada malam hari saja karena pada siang hari dia merasa malu bertemu dengan kupu kupu.

Petualangan Putri Menjadi Burung

Penulis : Princess E Diary
cerita rakyat nusantara
http://assets00.grou.ps/
Putri tertunduk lesu sepanjang perjalanan pulang dari sekolah.

Itu adalah sebuah keadaan yang sangat mengherankan bagi setiap mata yang memandang, pemandangan tidak biasa ini.

Putri yang terkenal sebagai anak ceria berkepang dua. Murid sekolah dasar kelas 5 itu, biasanya berjalan sambil bernyanyi kecil dan selalu tersenyum menyapa tiap orang yang ditemuinya sepanjang jalan pulang.

Pasti ada sesuatu hal yang benar-benar mengganggu pikirannya kalau senyum ceria itu hilang dari wajahnya. Demikian pikiran dari orang-orang yang kebetulan melihat tingkah aneh si putri.
“Putri, makan dulu nak, sudah bunda siapkan makanan kesukaanmu,” panggil Bunda saat melihat putri yang tidak keluar dari kamarnya setelah pulang dari sekolah.

“Putri tidak lapar, Bunda,” sahut putri dari dalam kamar.

Bunda langsung merasa ada yang tidak beres. Naluri keibuannya mengatakan pasti ada sesuatu yang menimpa Putri sampai dia tidak memiliki nafsu makan. Apalagi setelah tadi sempat sekilas melihat wajah murung dari Putri sewaktu sampai dirumah.

“Putri, boleh bunda masuk?” tanya bunda sambil mengetuk pintu kamar.
“Masuk saja, bunda, nggak dikunci kok,” sahut putri pelan.

Membuka pintu kamar dan mengambil tempat disebelah putri di tepi tempat tidur, bunda mulai menanyai sambil mengelus rambut putri.

“Ada apa Put? Ada masalah di sekolah? Putri tahu kan kalau putri bebas bercerita apa saja ke bunda. Bunda siap mendengarkan.”
“Hm… Nggak ada apa-apa kok Bunda. Hanya agak nggak enak badan saja,” elak Putri pelan.
“Kalau nggak enak badan malah harus makan Put, terus minum obat, lalu tidur biar sembuh. Makan ya sekarang, bunda suapin?” ajak bunda dengan kening berkerut cemas.
“Iya, Putri makan sekarang saja bunda, tapi nggak usah minum obat ya, pahit,” jawab putri, sambil menganggukkan kepala tanda setuju. Bunda menggandeng Putri keluar dari kamar.
“]Cerita rakyat nusantara
Putri bersedih [walcoo.com
Keesokan harinya…..

Putri bangun dengan agak malas, suara kicau burung di pohon depan jendela kamarnya membangunkannya.

Ah… Kenapa malam sudah berganti pagi… Andai saja hari ini tidak pernah ada…

Suara-suara ini terdengar riuh didalam kepala Putri, mencerminkan kegelisahan hatinya yang belum terselesaikan sejak kemarin.

Dengan tatapan kosong, putri melihat keluar jendela, melihat seekor burung berkicau dengan riangnya, bertengger di salah satu ranting pohon. Burung kecil itu seolah mengerti ada yang memperhatikannya, dia mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit yang biru.

Ah…. Andai aku menjadi seekor burung, aku akan punya sayap yang bisa membantuku terbang dan lari dari hari ini…

Kembali Putri berkhayal.
“Putri, cepat mandi nak, nanti terlambat ke sekolah,” sayup-sayup suara bunda terdengar.
“Cuitt…. Cuitt… Cuittt….”

Ada apa dengan diriku? Kenapa aku tidak bisa berkata “iya” malah mengeluarkan suara aneh seperti kicau burung?? Ah… Kamar ini kenapa mendadak jadi besar sekali? Kaki tempat tidurku yang biasanya hanya seukuran lututku tingginya kenapa bisa diatas kepalaku sekarang tingginya?!
“Cuittt…. Plak…. Plak… Cuitttt…”

Hei… Aku sekarang punya sayap! Aku bisa terbang! Wah…. Ringan sekali tubuhku.

Sambil kegirangan, Putri mencoba sayap barunya. Pertama hanya berputar-putar didalam kamar saja. Akhirnya langit biru diluar kamar menggodanya untuk mencoba terbang lebih tinggi. Sambil mengepakkan sayapnya lebih kencang, Putri yang telah berubah menjadi burung itupun terbang ke langit bebas.
Berada di atas udara yang segar, terbang bermain diantara awan yang cantik bagai gumpalan kapas membuat putri kegirangan.

Ah… Betapa bahagianya menjadi seekor burung. Tidak ada yang dipikirkan kecuali terbang bebas di angkasa.

Tak terasa Putri pun terbang lebih jauh lagi, ke arah perkebunan kopi milik juragan Asal.
Putri yang aslinya adalah seorang anak yang bersemangat, setelah menjadi seekor burung membuat semangat itu berlipat ganda.

Setelah terbiasa terbang datar, dia mulai belajar terbang menukik, miring, dan bahkan terbang terbalik. Semua gaya dicoba olehnya dengan semangat tinggi. Ini adalah pengalaman baru yang menyenangkan baginya.

Bunda dan semua orang di kehidupan manusianya sejenak terlupakan olehnya. Hal yang wajar saat orang mendadak memiliki kemampuan super, membuat dia lupa diri. Itulah yang dialami putri sekarang.

Sampai suatu saat sebuah bunyi menyentakkan dirinya dan kembali rasa takut itu muncul setelah sempat terlupakan sejenak.
Bunyi apakah itu?

Dorrr…. Dorrr…. Dorrrr…..

Suara peluru mengoyak ketenangan langit di pagi ini.
Putri terkejut, sejenak dia kebingungan mau lari ke arah mana, hanya mampu mengepakkan sayap dengan panik.

“Ssttt…. Kesini! Ya kamu, kesini!” seekor burung kecil seukuran putri berteriak dari dahan pohon.

Putri sempat merasa aneh melihat seekor burung bisa berbicara, ah tapi bukankah dia sendiri sudah berubah menjadi burung pagi ini, seharusnya tidak ada lagi yang bisa membuatnya keheranan kan?

Terbanglah Putri menuju ke dahan pohon tersebut.
“Hai, terima kasih sudah memanggilku kesini,” sapa Putri.
“Iya. Aku melihat kamu kebingungan tadi. Kamu sungguh berani ya terbang di waktu pagi seperti ini. Tidak tahukah kamu? Pagi adalah waktu bagi Juragan Asal pemilik perkebunan ini untuk latihan menembak? Kamu bisa mati disana tadi,” geleng burung kecil teman baru putri.

“]”]dongeng anak nusantara
Burung yang memanggil Putri [Dragoart.com
“Oh, aku tidak tahu teman. Aku hanya merasa asyik terbang menikmati langit yang cerah ini.” Kata Putri.
“Melihat dari warna bulumu yang merah muda, kelihatannya memang kamu bukan burung daerah ini. Dari manakah asalmu teman?” tanya burung kecil itu lagi.
“Hm… dari sebelah perkebunan ini yang pasti. Karena aku merasa belum jauh terbang meninggalkan rumah pagi ini,” jawab Putri dengan hati-hati.

Ah… Lebih baik aku menjawab seperti itu saja, daripada susah menjelaskan ke teman baruku ini bagaimana sebuah keajaiban terjadi pagi ini, seorang manusia menjadi seekor burung!

“Oh begitu ya. Sebenarnya satu saja yang harus diingat teman, dimana pun kita berada kita harus cepat beradaptasi, kalau tidak bisa celakalah kita! Aku tidak tahu bagaimana situasi di daerah tempat tinggalmu. Tapi kalau disini langit bukanlah sebuah area yang bebas untuk bermain setiap saat,” kata burung kecil itu dengan serius.

“Oh, kenapa begitu? Padahal aku selalu merasa menjadi seekor burung adalah sesuatu yang luar biasa, bisa bebas bermain di langit yang luar biasa luas tanpa takut ada yang mengganggu,” tanya Putri keheranan.

“Wah, kalau disini pagi adalah waktu terlarang untuk terbang, karena itulah waktu yang dipilih oleh juragan Asal untuk latihan menembak di perkebunan ini. Karena pagi tidak panas oleh terik matahari. Akhirnya siang yang dipilih kami untuk terbang mencari makan, meski menentang terik matahari, tapi itu masih lebih baik daripada resiko kena peluru nyasar dari senapan juragan Asal,” burung kecil itu menjelaskan dengan penuh semangat sambil mengangguk-anggukkan kepalanya untuk menegaskan.

Ah…. Ternyata menjadi seekor burung yang aku pikir menyenangkan tidaklah seasyik kelihatannya… Tetap saja ada rasa takut…

“Hm… kenapa juragan Asal itu bisa bebas menembak disini? Seharusnya burung-burung seperti kita ini dilindungi bukan?” tanya Putri dengan gusar.
 
“Yah begitulah teman, begitulah manusia. Karena juragan Asal adalah pemilik perkebunan ini, maka dia merasa berhak atas segala sesuatunya, sampai langit diatas perkebunan ini seolah menjadi miliknya juga. Jadi siapa pun yang terbang diatasnya dianggapnya sebagai miliknya yang bisa dijadikan sasaran untuk latihan menembak,” jawab burung kecil.

“Terus kamu tidak pernah berpikir untuk terbang meninggalkan perkebunan ini kah teman? Mencari tempat baru yang lebih aman untuk tinggal?” tanya Putri penasaran.
“Ah ada-ada saja kamu ini teman. Mau terbang kemana? Burung jenis kami ini sudah lama tinggal di perkebunan ini. Bahkan mungkin lebih lama lagi dari juragan Asal yang baru memiliki perkebunan ini 7 tahun terakhir,” dengan gelinya burung kecil itu menjawab.
“Lagipula mau pindah kemana saja tidak akan lepas dari juragan-juragan Asal yang baru. Tahu sendiri bagaimana sifat manusia, kurang lebih sama, hanya mementingkan diri sendiri tanpa memedulikan bahwa ada mahluk hidup ciptaan Tuhan yang lain yang juga memiliki hak hidup yang sama. Yang merusak keseimbangan alam ini kebanyakan adalah manusia,” burung kecil ini menambahkan dengan sedih.

“Tapi, sampai kapan kamu akan bertahan menghadapi masalah ini? Tidak inginkah kamu mendapatkan kehidupan yang bebas dari semua masalah, bebas terbang kemana pun dan kapan pun kamu inginkan?” desak Putri lagi.

“Ah teman, masalah itu akan selalu ada dalam hidup. Terbang meninggalkan masalah bukanlah cara yang tepat. Sampai sejauh mana sayapmu akan membawamu menghindari masalah? Hanya akan membuatmu kelelahan apabila terus menghindari masalah. Masalah harus dihadapi, itulah yang terbaik,” kata burung kecil.

Ah… Mendadak aku seperti digigit semut, perkataan burung kecil ini menyadarkanku. Aku yang takut menghadapi masalah dan berandai-andai menjadi seekor burung yang bisa terbang bebas, ternyata disadarkan oleh seekor burung kecil! Ternyata burung pun tak lepas dari masalah. Ah… Jadi ingin pulang…

Putri melihat ke kejauhan, dari dahan pohon yang lumayan tinggi ini dia bisa melihat jendela kamarnya di lantai 2.

“Teman, ini sudah siang. Aku harus pulang. Terima kasih sudah menemaniku,” pamit Putri ke teman barunya.
“Sama-sama. Hati-hati waktu terbang pulang ya. Selamat jalan,” kalimat terakhir yang aku dengar dari burung kecil itu.
Dengan bersemangat putri mengepakkan sayapnya, pulang, hanya itu yang berada di pikirannya saat ini!

Jendela kamar yang terbuka, seperti saat Putri terbang meninggalkan kamar, memudahkan putri untuk mengepakkan sayap dan masuk ke dalam kamar.
Seiring dengan desiran angin kepak sayap Putri, saat itulah putri kembali berubah menjadi manusia duduk manis di tepi tempat tidur.

Kisah Santri Kabel Senjata


Pada suatu pagi yang cerah di pesantren,kang bahlul terlihat sedang
asik mencuci nampan.
Dia baru saja selesai memasak dan bersiap untuk sarapan. Hari ini
adalah hari jum'at,di mana para santri libur mengaji.
Tapi ketika sedang asik dengan kesibukanya,tiba-tiba si badrun teman
kang bahlul datang. Dengan berlari kecil dan nafas agak ngos-ngosan
dia menemui kang bahlul.

"kang...di panggil abah..".kata badrun.
"wah...tumben abah manggil aku. Emangnya ada apa drun?". Tanya kang
bahlul penasaran.
"waduh...gak tau juga aku kang. Yang penting sampean segera temui abah
saja langsung".
"ok drun,tapi tunggu bentar ya. Aku mau sarapan dulu,nanggung sudah
nyuci nampan;.
"Terserah sampean aja lah kang,yang penting amanat abah sudah saya sampaikan".
"sip drun,makasih ya...".
"sama-sama kang,kalau gitu saya pamit dulu ya kang. Mau nyuci
baju.wassalamu'alaikum..".kata badrun berpamitan.
"wa'alaikum salam...".jawab kang bahlul.

Setelah selesai sarapan,kang bahlul pun menghadap pak kyai atau biasa
di panggil para santri dengan abah.
Setelah mengucapkan salam,kang bahlul pun di persilahkan duduk. Dan
abah pun menjelaskan alasan dia di panggil.

"Begini lul,ini kan hari libur.Aku mau nyuruh kamu pergi ke kota
sebentar,buat beli cangkul sama sabit di pasar.Soalnya besok mau
panen".kata abah.
Kang bahlul pun menyambutnya dengan antusias.
Setelah menyanggupi,kang bahlul pun pamit undur diri dan ke kamar
untuk ganti baju.
Sungguh suatu momen yang langka santri bisa keluar pesantren,apa lagi
turun ke kota.Kang bahlul pun berdandan dengan necis.Pakai baju
keren,rambut berminyak kelimis,tak lupa pakai jaket kulit
kesayangan,tapi ya...tetep pakai sarung dan peci.Maklum...itu kan yang
menunjukan jati diri santri...hehehe...

Singkat cerita...setelah sampai di kota kang bahlul pun segera menuju
ke tempat tujuan.Setelah membeli beberapa cangkul dan parang,kang
bahlul pun langsung cabut.
Tapi karena rada malu membawa cangkul dan parang karena penampilanya
sudah necis,ahirnya muncul ide nyeleneh di otak kang bahlul.
Jadi..parang dan cangkul dia sembunyikan di balik bajunya.Parang dia
ikat di kedua tangan sedankan cangkul dia selipkan di perut dan di
gantungkan di leher dengan tali.Kemudian dia tutupi dengan jaketnya..

"nah...kalau gini kan sudah aman..".fikir kang bahlul.

Tapi...Waktu kang bahlul mau berjalan pulang,dia di hadang oleh dua
orang preman.Kang bahlul di palak oleh kedua preman itu,tapi karena
memang tak punya uang kang bahlul pun tak mau memberi.
Merasa korbanya melawan,tiba-tiba salah satu preman mengeluarkan pisau
dan berusaha menusuk kang bahlul.
Karena terkejut dan ketakutan,kang bahlul hanya bisa memejamkan mata
dengan spontan.Karena tak bisa apa-apa,kang bahlul sudah pasrah pada
takdir.
Tapi ketika pisau itu mengenai perut kang bahlul,gantian premanya yang
terkejut.Karena pisau yang dia tusukan tak mampu menembus tubuh kang
bahlul.
Dia coba menusuk berkali-kali,tapi tiap pisau itu mengenai perut kang
bahlul...yang terdengar hanya suara..ting...! Ting...!
Seperti besi yang beradu.
Melihat kenyataan itu,nyali para preman pun mulai menciut.Tanpa
menunggu aba-aba keduanya pun mulai berlari meninggalkan kang bahlul
yang masih terpejam dengan tubuh gemetar karena ketakutan.


Tanpa di sengaja,ternyata ada seorang warga yang melihat kejadian itu.
"Wah...edan...ternyata anak santri itu kebal..".Fikir orang itu.

Ketika kang bahlul membuka mata,dia hanya bisa melongo keheranan
karena dua preman yang tadi menghadangnya sudah hilang.
Dengan wajah heran bercampur bingung karena dia tak tau apa yang
sebenarnya terjadi,kang bahlul pun meneruskan perjalanan pulang ke
pesantren.Sesampainya di pesantren,dia langsung menemui abah dan
menyerahkan cangkul dan parang yang tadi dia beli.Kemudian kang balul
ke kamar,mandi,dan berangkat solat jum'at seperti tak pernah mengalami
kejadian apa-apa.


Tapi kehebohan terjadi di luar area pesantren.
Berita dengan cepat tersebar dan membuat warga gempar.
Karena tersebar berita bahwa para santri itu kebal senjata,jadi jangan
macam-macam dengan mereka.
Dan mulai saat itu,tak pernah ada lagi yang berani mengganggu para santri.
Karena title "kebal" yang di sandangnya...hehehe..

Hikmah dari kisah ini adalah...
Cuma sekedar cerita humor dan nilai positive yang dapat di ambil
adalah,apapun yang menimpa kalian...jangan pernah lupa untuk
berdo'a,bertawakal,dan bersabar.Karena ada kalanya pertolongan allah
bisa datang dari hal yang sama sekali tak kita duga... :)